Kamis, 21 Mei 2020

TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

PENGERTIAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

        Teori belajar Konstruktivisme adalah pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan  himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman, ini menyebabkan  seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi dinamis. 

Ada beberapa pengertian menurut para ahli yaitu sebagai berikut :

1. Teori Belajar Menurut Jean Piaget

 

 Nothing Is Impossible: Teori Piaget dan Implementasinya dalam ...

Jean Piaget yang dikenal sebagai Konstruktivis Pertama, menegaskan bahwa penekanan teori Konstruktivisme pada proses, untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori Konstruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Adapun proses mengonstruksi, sebagaimana dijelaskan oleh Jean Piaget adalah sebagai berikut :

Skemata: Sekumpulan konsep yang digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan. Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema ini terbentuk karena pengalaman.

Asimilasi: Proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam  pemikiranya.

Akomodasi: Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skema yang telah ada

Keseimbangan: Ekuilibrasi merupakan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi merupakan keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi. Ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.

 2. Teori Belajar Menurut Vygotsky 

Lev Vygotsky - Wikipedia

Ratumanan (2004) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama yaitu :

Perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak.

Perkembangan bergantung pada sistem – sistem atau syarat mengacu pada simbol – simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berpikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah.

Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan didalam  memorinya. Dalam hal ini guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide – ide mereka sendiri untuk belajar. Dapat dikatakan, bahwa makna belajar menurut Konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana peserta didik membina sendiri pengetahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide – ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dan dimilikinya.

KONSEP, PRINSIP-PRINSIP, TUJUAN SERTA CIRI-CIRI TEORI BELAJAR                                     KONSTRUKTIVISME

  • KONSEP UMUM PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

Adapun konsep umum pendekatan teori belajar konstruktivisme sebagai berikut:

  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar harusnya membina sendiri pengetahuan mereka
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelarahan terbaru.
  4. Unsur penting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi  baru dengan pemahamannya yang sudah ada
  5. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai kaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar. 

  • PRINSIP – PRINSIP TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

 Adapun prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme sebagai berikut:

  1. Menyediakan pengalaman belajar yang menjadikan peserta didik dapat melakukan konstruksi pengetahuan.
  2. Pembelajaran dilaksanakan dengan mengaitkan pada kehidupan  nyata
  3. Memotivasi  peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran
  4. Pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan pada  kehidupan sosial peserta didik
  5. Pembelajaran menggunakan berbagai sarana
  6. Melibatkan peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan peserta didik

  • TUJUAN DARI TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

  1. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri
  2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan
  3. Mengembangkan kemampuan siswa untuk memiliki pemikir yang mandiri

  • CIRI – CIRI DARI TEORI BELAJAR KONSTRUKSIVISME

  1. Memberi peluang kepada murid untuk membina pengetahuan baru melalui pengalaman
  2. Menerima daya usaha dari peserta didik
  3. Menggalakan peserta didik untuk bertanya dan berdialog dengan guru
  4. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran
  5. Melaksanakan pembelajaran secara kooperatif

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUKTIVISME

  •  KEUNGGULAN DARI TEORI KONSTRUKTIVISME
  1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri dan mendorong siswa untuk memberikan penjelasan tentang gagasannya.
  2. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa, agar siswa dapat memperluas pengetahuannya
  3. Memberi kesempatam kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri
  4. Mendorong  siswa untuk memikirkan petubahan gagasan untuk menyadari kemajuan  siswa dan memberi kesempatan untuk mengidentifikasi perubahan gagasan itu
  5. Lingkungan  belajar  yang  kondusif  yang  mendukung  siswa mengunkapkan gagasan dan saling menyimak

  •  KELEMAHAN DARI TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

  1. Guru merasa kesulitan memberikan contoh – contoh konkrit dan realistik dalam proses pembelajaran
  2. Guru tidak ingin berubah dalam menggunakan model pembelajaran. Guru merasa nyaman dengan model pembelajaran tradisional, yaitu model ceramah
  3. Guru berpikir bahwa pembelajaran Konstruktivisme memerlukan lebih banyak waktu. Proses  pembelajaran Konstruktivisme  ingin membuat siswa menjadi aktif, hal ini terkadang juga terkendala dengan kemampuan kognitif siswa
  4. Belum adanya fasilitas yang memadai guna mendukung pembelajaran Konstruktivisme
  5. Terlalu banyak bidang studi yang harus dipelajari dalam kurikulum. Masih banyak guru yang mengajar diluar bidang studi sesuai kualifikasinya